Pages

Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Monday, 3 September 2012

ULAMA BESAR INDIA - SIDDIQ HASAN KHAN



SIDDIQ HASAN KHAN
Nasabnya


Beliau adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid Shiddiq bin Hasan bin Ali bin Luthfullah Al-Husaini Al-Bukhari Al-Qinnauji. Nasab beliau berakhir pada Al-Imam Husain, cucu terkecil dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.


Kelahiran dan Pertumbuhannya


Beliau lahir pada bulan Jumadil Ula tahun 1248 H (sekitar 1832) di Negeri Berlhi tanah air kakeknya yang terdekat dari pihak ibu. Kemudian keluarga beliau pindah ke kota Qinnauj, tanah air kakek-kakeknya. Ketika tahun keenam ayahnya wafat. Tinggallah ia di bawah asuhan ibunya dalam keadaan yatim. Shiddiq kecil tumbuh sebagai seorang yang afif (memelihara diri), bersih dan cinta kepada ilmu dan para ulama.


Ilmu Beliau dan Belajarnya


Beliau safar ke Delhi untuk menyempurnakan pelajarannya di sana. Beliau bersungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membukukan ilmu keduanya. Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk mengumpulkan buku-buku, mendapatkan pemahaman tambahan dalam membacanya serta meraih faedah-faedahnya, khususnya kitab-kitab tafsir, hadits dan ushul. Kemudian beliau safar ke Bahubal untuk mencari biaya penyambung hidup beliau. Di sana beliau mendapatkan faedah besar, yaitu menikah dengan Ratu Bahubal dan beliau digelari dengan Nawwab Jaah Amirul Malik bi Hadar.


Guru-guru Beliau


Guru beliau cukup banyak, di antaranya Syaikh Muhamad Ya’qub, saudara Syaikh Muhammad Ishaq cucu Syaikh Al-Muhaddits Abdul Aziz Ad-Dahlawi. Di antara guru beliau juga Syaikh Al-Qadhi Husain bin Al-Muhsin As-Sa’bi Al-Anshari Al-Yamani Al-Hadidi, murid dari Asy-Syarif Al-Imam Muhammad bin Nashir Al-Hazimi murid dari Imam Asy-Syaukani. Guru beliau juga adalah Syaikh Abdul haq bin Fadhl Al-Hindi, murid dari Al-Imam Asy-Syaukani juga, dan masih banyak lagi.


Karangan-karangan Beliau


Dalam mengarang, beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan, yaitu dapat menulis beberapa kitab dalam satu hari dan mengarang beberapa kitab tebal dalam beberapa hari. Karangan-karangan beliau dalam beberapa bahasa hingga 222 buah. Demikian yang dihimpun oleh Syaikh Abdul Hakim Syafaruddin, pentashih dan penta’liq kitab At-Taajul Mukallal. Beliau berkata, “Di antaranya 54 berbahasa Arab, 42 berbahasa Persia, dan 107 dengan bahasa Urdu”. Dan beliau belumlah menghitung jumlah yang sebenarnya.


Kitab-kitab beliau memenuhi dan mencapai segala penjuru dunia islam. Banyak para ulama tafsir dan hadits yang menulis risalah tentang beliau yang berisi pujian kepada kitab-kitabnya dan mendoakan kebaikan kepada beliau. Beliau juga dianggap sebagai tokoh kebangkitan Islam dan mujaddid. Di antara karangan beliau yang tercetak dengan bahasa Arab:


• Fathu Bayaan fi Maqashisil Qur’an
• Nailul Maran min Tafsiiri Aayatil Ahkam
• Ad-Dinul Khalish
• Husnul Uswah bimaa Tsabata ‘anilhiwa Rasuulihi fin Niswah
• ‘Aunul Bari bi Halli Adillatil Bukhari
• As-Sirajul Wahhaj min Kasyfi Mathaalihi Shahihi Muslim bin Al- Hajjaj
• Al-Hittah fi Dzikrish Shihabis Sittah
• Quthfus tsamar fii Aqidatil Atsar
• Al-Ilmu Khaffaq fil Ilmil Itsiqaq
• Abjadul Ulum
Dan masih banyak lagi.


Wafat Beliau


Beliau wafat pada tahun 1307 H, bertepatan dengan 1889 M. Maka masa kehidupan beliau adalah 59 tahun qamariyah atau 57 tahun syamsiah. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Referensi:
Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, karya Asy-Syaikh Ali Hasan, terbitan Pustaka Al-Haura’ Jogjakarta, halaman 81-84

)*Catatan:
Di atas beliau digelari dengan Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid. Artinya adalah sebagai berikut:
• Al-’Allamah : Orang yang banyak sekali ilmunya
• Al-Ushuli: Ahli ilmu ushul (ilmu-ilmu dasar dalam agama)
• Al-Muhaddits: Ahli dalam ilmu hadits
• Al-Mufassir: Ahli tafsir
• Adapun As-Sayyid, saya belum mendapatkan maksudnya apa. Mungkin beliau digelari dengan As-Sayyid karena beliau masih keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, wallahu a’lam.

WAKI'E IBNU AL-JARRAH : GURU PARA ULAMA


Wakie’ bin al-Jarrah (wafat 197 H)


Nama sebenarnya adalah Abu Sufyan Wakie’ bin al Jarrah bin Malikh bin ‘Adiy, Ia dilahirkan pada tahun 127 H, Ia seorang ulama dari tabi’it tabi’in dan seorang hafidh ahli hadist yang besar, Imam dari ulama ulama Kufah dalam bidang hadist dan lainnya.


Ia menerima hadits dari al-a’Masy Hisyam bin Urwah, Abdullah bin Aun, ats Tsaury, ibnu Uyainah dan yang lainnya.


Para ulama hadits mengakui ketinggian ilmunya Waki’ dalam bidang hadits dan kuat hapalannya.

Ahmad bin Hanbal berkata,” Telah diceritakan kepadaku oleh orang yang belum pernah mata anda melihatnya yang seperlunya, yaitu Wakie’ ibn al-Jarrah”.


Ahmad berkata pula,” Belum pernah saya melihat seorang ulama tentang hal ilmu, hapalan sanad adalah Wakie’, dia menghapal hadist, mendalami fiqih dan ijtihad, dan dia tidak pernah mencela seseorang”.


Ibnu Ma’in berkata,” Belum pernah aku melihat orang yang meriwayatkan hadist semata mata karena Allah selain daripada Wakie’”.


Ibnu Amar berkata,” Tidak ada di Kufah orang yang lebih alim dari pada Waki’ dan lebih hapal, dia dimasanya sama dengan al-Auza’iy”.
Ia wafat pada tahun 197 H.

:- Disalin dari Biografi Wakie’ bin al-Jarrah dalam dalam Tahdzibul Asma an Nawawi 11/123, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii 11/144


Wednesday, 7 March 2012

AL-GHAZALI ( IMAM HUJJATUL ISLAM )




Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/1059 di Thus daerah Khurasan. la dikenal dengan al-Ghazali karena ayahnya pekerja pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Keluarganya tergolong keluarga yang kuat beragama dan termasuk keluarga sufi. la mulai memasuki pendidikan di daerahnya yaitu belajar kepada Ahmad ibnu Muhammad al-Razkani al-Thusi. 
Disamping belajar tersebut ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh Setelah imam al-Juwaini wafat dan pelajaran tasa-wuf sudah cukup dikuasainya, kecemerlang¬an dan keharuman namanya dan kesenangan duniawi melimpah ruah. Namun keadaan itu bukan semakin menambah kebahagiaan¬ malah membawanya sakit sampai ia secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kecemerlangan duniawi itu. ia berangkat menuju Damaskus di Syria dan tinggal dikota ini mulai tahun 488 H/1095 suatu kota yang penuh damai dan banyak dihuni kalangan sufi. Di masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir di puncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan minum yang terbatas. la memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus-menerus seperti itu selama dua tahun di Damaskus.
Setelah itu, ia meninggalkan Damaskus berangkat menuju Baitul Maqdis di Palestina. Di sini, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah mengunci pintunya unlah dan berzikir. ia juga berangkat ke kota al-Khalil untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dirasa cukup berada di Palestina, ia berangkat menuju Hijaz untuk melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah Ke makam Rasulullah di Madinah.menurut beberapa penulis, setelah ia melaksanakann ibadah haji, ia berangkat menuju Mesir dan tinggal iskandariah beberapa lama. Setelah beberapa kali adanya permintaan, maka ia akhirnya mengabulkan untuk kembali mengajar di Perguruan Nidzamiyah Baghdad. Ternyata ia tinggal di Baghdad dengan tugas memberikan kuliah tersebut tidak lama dilaksa¬nakannya, dan ia kembali ke Thus. Di Thus ia mendirikan khanaqah untuk para sufi dan mendirikan madrasah untuk mengajar Ilmu Tasa¬wuf. Di daerah kelahirannya ini Imam al-Ghazali yang bergelar dengan hujjatul Islam meninggal dunia de¬ngan tenang pada hari Senin 14 jumadil Akhir 505 H. AI-Ghazali meninggalkan karya-karya tulis yang amat banyak meliputi berbagai bidang keislaman Kalam, Fiqh, Filsafat, Tasawuf, dan lain-lain, dalam ¬bentuk buku maupun risalah.
Tasawuf al-Ghazali menghimpun akidah, syariat, dan akhlak dalam satu sistematika yang kuat dan amat berbobot. Berbobotnya tasawuf al-Ghazali itu karena teori-teori tasawufnya itu lahir dari kajian dan peng¬alaman pribadi setelah melaksanakan sulukk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan berkesi¬nambungan. 
Dalam pandangan al-Ghazali, Ilmu Tasawuf mengandung dua bagian penting, pertama mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mu'amalah dan bagian kedua mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mukasyafah. Ilmu Tasawuf yang mengandung dua bagian ilmu ini secara jelas diuraikan dalam karyanya Ihya 'Ulumiddin. Ia mengemukakan maqamat dan ahwal yang perlu ditempuh oleh salik itu adalah tobat, sabar, syukur, khauf, zuhud, tawakkal, mahabbah, unsu, 'isyq, ridha.Menurut al-Ghazali, antara maqam dan hal tidak begitu berbeda dan hanya dikenali dengan perasaan batin masing-masing. Dalam uraian-uraian al-ghazali, kita mengetahui bahwa setiap maqam dan hal selalu mengandung tiga unsur penting yaitu menyangkut ilmu, rasa dan amal dari masing-masing. Menurut al-Ghazali perjalanan tasawuf itu pada hakikatnya adalah pembersihan diri dan pembening¬an hati terus-menerus hingga mampu mencapai mu¬syadah. Oleh karena itulah, maka al-Ghazali mene¬kankan betapa pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik di sisi manusia maupun di sisi Tuhan. Keistimewaan al-Ghazali yang lain adalah uraian¬nya yang berhubungan dengan makrifat sebagai jalan mnengenal Allah yang jelas ciri-ciri dan batas-batasnya. Sarana makrifat menurut al-Ghazali, bukan akal, indera atau rasa, tetapi hati (al-qalbu). Hati (al-qalbu) bukan dalam arti segumpal daging dalam dada sebe¬lah kiri itu sebagaimana biasanya disebutkan, namun adalah percikan rohaniah ketuhanan (latifah rabbaniy¬ah) yang merupakan kebenaran hakiki manusia. Menurut al-Ghazali, hati (al-qalbu) ibarat cermin yang mampu menangkap makrifat ketuhanan. Ke¬mampuan hati (al-qalbu) tersebut tergantung pada bersih dan beningnya hati (al-qalbu) itu sendiri. Apa bila ia dalam keadaan kotor atau penuh debu dosa maka ia tidak akan bisa menangkap makrifat itu. Metode penyampaian yang digunakan adalah meto¬de kasyf.
Dengan kasyf yaitu terbukanya dinding yang memisahkan antara hati (al-qalbu) dengan Tuhan karena begitu bersih dan beningnya hati (al-qalbu) tersebut, maka terjadi musyahadah yang hakiki. Seorang sufi yang sudah berada dalam maqam demikian, ia tidak memandang selain Allah dan tidak, tahu selain Dia. Yang disaksikannya dalam ujud ini hanyalah Dia dan ciptaan-ciptaan-Nya. Dalam keada¬an demikian, seorang sufi mengesakan Allah dengar sebenarnya dan ia tidak melihat kecuali Dia. Demikian sufi sudah mulai memasuki keadaan fana dalam tauhid.
Membicarakan masalah fana, maka menurut Al-Ghazali, pembicaraan itu sudah memasuki ilmu mukasyafah.


Monday, 5 March 2012

HAMZAH ASADULLAH - Singa Allah


Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu binatang di padang pasir, hal itu telah menjadi hobi dan kegemarannya sejak masa muda.

Siang itu hampir setengah hari dia menghabiskan waktunya di padang pasir yang luas dan tandus itu, akan tetapi ia tidak mendapatkan buruannya. Akhirnya ia beranjak pulang dan mampir di Ka’bah untuk melakukan thawaf sebelum kembali ke rumah.
Sesampainya di depan Ka’bah seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud’an At Taimi menghampirinya seraya berkata,”Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kamu melihat apa yang dialami oleh anak saudaramu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam-lah, musuh jahatnya telah memaki dan menyakiti anak saudaramu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.” kemudian diceritakannya peristiwa itu secara terperinci.
Setelah mendengarkan panjang lebar peristiwa yang di alami oleh anak saudaranya tadi pagi, dia terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Lalu ia membawa busur dan anak panah dan menyandangnya, Kemudian dengan langkah cepat dan tegap, ia pergi menuju Ka’bah dan berharap akan bertemu dengan Abu Jahal di sana. Namun belum sampai di Ka’bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Maka dalam ketenangan yang mencekam, Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur dan mengucurlah darah segar deras dari dahinya.
“Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Nah sekarang, cuba ulangi kembali makian dan cercaan mu itu kepadaku jika kamu berani!”, bentak Hamzah kepada Abu Jahal.
Akhirnya dalam beberapa saat orang-orang yang berada di sekitar Ka’bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.
Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,”Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Kerana tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca anak saudaranya dengan kata-kata yang tidak pantas.”
Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berfikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.
Sementara itu Abu jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum muslimin berpendapat perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi. Oleh kerana itu ia mulai menghasut orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rosulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahawa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama islam lebih mendalam.
Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da’wah islam. Kerana itu tidaklah menghairankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan “Asadullah” yang bererti singa Allah.
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali di kirim oleh Rasulullah dalam perang Badar, di pimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah, Si Singa Allah, dan Ali bin Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.
Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah iaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara kerana suaminya terbunuh dalam perang Badar.
Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat iaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perhambaan.
Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin.. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.
Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.
Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.
Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerajang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza dengan lajunya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi melemparkan tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bahagian bawah Hamzah hingga tembus ke bahagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.
Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.
Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,”Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”
Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin mensolatkan jenazah bapa saudaranya dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama Sayyidina Hamzah disolatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk disolatkan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya mensolatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah mensolatkan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah mensolatkan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.


Friday, 24 June 2011

Khaulah Binti Tsa’labah



Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.

Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, "Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku." Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, "Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, "Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya".

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, "Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku".

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang ditimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: "dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih."(Al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.

Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…" (Al-Mujadalah: 1)

Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, "Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah." Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, "Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!" Umar kemudian menegurnya, "Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. "

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”
(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

Tuesday, 8 March 2011

Umar Abd Aziz - Penerus Kegemilangan Khilafah


Biografi

Umar dilahirkan pada tahun 682. Ada dua pendapat mengenaai tempat kelahirannya iaitu pendapat pertama dia dilahirkan di Madinah manakala pendapat kedua mengatakan dia dilahirkan di Mesir. Bapanya ialah Abd al-Aziz, Gabenor Mesir dan adik kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Umar ialah cicit kepada Khalifah ketiga Khulafa al-Rasyidin iaitu Saidina Umar Al-Khatab.

Menjadi Gabenor Madinah

Umar dibesarkan di Madinah dan tinggal di sana sehinggalah kematian ayahnya. Selepas itu dia dipanggil oleh Khalifah Abdul Malik ke Damsyik untuk mengahwini anak Khalifah Abdul Malik, Fatimah. Khalifah Abdul Malik meninggal dunia tidak lama kemudian dan digantikan dengan anaknya Al-Walid I yang kemudian melantik Umar sebagai Gabenor Madinah. Tidak seperti gabenor terdahulu, Umar menubuhkan sebuah majlis untuk membantunya menguruskan Madinah. Ramai orang berhijrah dari Iraq ke Madinah mencari perlindungan daripada kekejaman gabenor Iraq iaitu Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal ini mendatangkan kemarahan Gabenor Iraq yang kemudiannya mendesak Khalifah Al-Walid supaya memecat Umar. Walaupun mendapat bantahan penduduk Madinah, Khalifah Al-Walid terpaksa tunduk kepada tuntutan Al-Hajjaj.

Menjadi Khalifah

Umar terus tinggal di Madinah sepanjang pemerintahan Khalifah Al-Walid dan Khalifah Sulaiman. Khalifah Sulaiman yang juga merupakan sepupu Umar amat mengaguminya dan melantik Umar sebagai penggantinya walaupun ditentang oleh saudara terdekatnya. Umar dengan berat hati menerima jawatan ini walaupun mencuba beberapa kali untuk mengubah keputusan Khalifah Sulaiman. Umar tidak mementingkan kekayaan dan kemegahan dan memilih untuk hidup dalam kesederhanaan.
Walaupun mendapat sokongan yang tidak berbelah bahagi rakyat, beliau menggalakkan rakyat supaya memilih khalifah yang baru sekiranya mereka tidak berpuas hati dengan pemerintahannya. Beliau membahagikan tanah jajahan Ummayyah kepada rakyat dan amat jarang menerima hadiah kerana takut dirasuah. Beliau juga mendesak kaum keluarganya supaya mendermakan barang kemas kepada perbendaharaan awam.

Perubahan Pentadbiran

Umar juga melakukan beberapa perubahan keagamaan. Dia menghapuskan amalan menyumpah Saidina Ali Abi Talib semasa khutbah Jumaat. Khalifah Umar juga menguatkuasakan undang-undang Syariah dan menghapuskan amalan pembayaran cukai Jizyah terhadap saudara baru Islam walaupun mereka telah memeluk Islam.
Walaupun beliau tidak berminat untuk mengembangkan empayar Ummayyah, beliau berjaya menumpaskan beberapa pemberontakan dan penentangan.

Kewafatan

Perubahan yang dilakukannya menimbulkan kemarahan golongan bangsawan Ummayyah yang kemudiannya merasuah seorang hamba untuk meracuni makanannya. Umar mengetahui mengenai perkara ini dan memaafkan pesalah ini. Beliau wafat pada tahun 720 di Aleppo. Beliau digantikan oleh sepupunya Yazid II.

Cebisan kata-kata menarik

Pemerintah selalunya melantik pegawai untuk mengawasi rakyatnya. Aku melantik kamu untuk mengawasi diriku dan kelakuanku. Jika kamu mendapati aku melakukan kesalahan, bimbinglah aku atau halanglah aku daripada melakukannya.
- Umar ibni Abd al-Aziz.