Pages

Saturday, 12 November 2011

TAFSIR SURAH AL-BAQARAH AYAT 25-27

TAFSIR SURAH AL-BAQARAH AYAT 25-27
OLEH : USTAZ MAT RAZALI BIN MAT LAZIN


بسم الله الرحمن الرحيم
وَبَشِّرْ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقاً قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (25)

25. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahawa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam syurga-syurga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

PENERANGAN AYAT

Sesungguhnya Allah menjanjikan syurga yang lengkap dengan kenikmatan kepada hamba-hambaNya. Dalam ayat ini Allah mengkhabarkan kepada rasulNya dan manusia yang beriman dan beramal soleh dengan janji yang akan menggembirakan mereka. Mereka diberikan syurga yang penuh kenikmatan, yang mana padanya ada sungai yang mengalir di bawah mahligai istana yang tinggi dan indah serta pepohonan yang menaungi. Kesemuanya Allah memberikan rezeki buahan yang lazat lalu ahlul iman berkata; kesemua buahan ini telah Allah jadikan dalam kehidupan sebelum ini iaitu kehidupan dunia, namun rasanya teramat sedap dan lazat berbanding dahulu.

Kemudian Allah ta’ala memberikan isteri-isteri yang suci daripada warna kekotoran dari segi zahirnya dan bebas dari akhlak buruk dari segi rohaninya. Mereka (ahli syurga) akan kekal didalamnya dan tidak akan mati atau keluar lagi darinya.

 إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ (26)

26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.[1] Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahawa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah[2], dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.

PENERANGAN AYAT

Sesungguhnya Allah itu tidak malu untuk memberikan berita kebenaran dengan menyebut perumpamaan samada ianya besar atau kecil. Bahkan inilah sindirin yang diberikan Allah kepada manusia yang menyembah selain daripada Allah s.w.t. Adapun manusia yang beriman, mereka diajarkan hikmah oleh Allah Ta’ala daripada setiap perumpamaan yang diberikan oleh Allah samada ia besar atau kecil.

Namun bagi orang-orang kafir, mereka itu dalam kerugian dan berkata; apa yang Allah umpamakan ini hanya menyesatkan manusia. Sesungguhnya kesesatan itu kerana mereka telah mengingkari akan ayat-ayat Allah. Namun orang yang beriman itu bertambah imannya dengan perumpamaan ini. Allah tidak akan menzalimi seseorang pun kerana Dia ( Allah ) tidak menghilangkan kebenaran kecuali pada manusia yang keluar dari ketaatan kepada Allah.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahawa ketika Allah membuat dua contoh perumpamaan kaum munafiqin dalam firmanNya (Surat Al Baqarah 17 dan 19 iaitu tentang cahaya,bisu,tuli,pekak), berkatalah kaum munafiqin: "Mungkinkah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Luhur membuat contoh seperti ini?" Maka Allah turunkan ayat tersebut di atas. Ayat ini menegaskan bahawa dengan perumpamaan-perumpamaan yang Allah kemukakan, orang yang beriman akan menjadi lebih tebal imannya. Dan hanya orang fasiq yang akan lebih sesat dari petunjuk Allah.[3]

Dalam riwayat lain dikemukakan bahawa ayat 26 tersebut di atas  diturunkan sehubungan dengan  surah al-Haj ayat 73 dan surat al-Ankabut ayat 41. Dengan reaksi kaum munafiqin yang berkata: "Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba di dalam al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad. Apakah ini bukan bikinan Muhammad?" [4]

Dalam riwayat lain dikemukakan, bahawa ketika Allah menerangkan laba-laba dan lalat dalam surah     al-Hajj 73 (ayat 73) dan al-Ankabut 41 (ayat 41) kaum musyrikin berkata: "Apa gunanya laba-laba dan lalat diterangkan dalam al-Qur'an?" Maka Allah turunkan ayat tersebut di atas (ayat 26). [5]

Dalam riwayat lain dikemukakan, bahawa ayat tersebut di atas (ayat 26) diturunkan sehubungan dengan surat al-Hajj 73 dan surat al-Ankabut 41, dengan reaksi kaum musyrikin yang berkata: "Contoh macam apakah ini yang tidak patut dibuat perumpamaan?"[6]

Keterangan:

Menurut as-Suyuthi: "Pendapat yang pertama (Ibnu Jarir) lebih shahih sanadnya dan lebih munasabah dengan permulaan surat. Sedangkan yang menerangkan kaum musyrikin, tidak sesuai dengan keadaan ayat Madaniyyah (yang diturunkan di Madinah)." Adapun yang diriwayatkan oleh al-Wahidi (sebagaimana telah kami kemukakan di atas) yang bersumber dari Qatadah dan Hasan, dengan tidak pakai isnad, munasabah apabila menggunakan kata: "Berkatalah kaum Yahudi."  

 الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُوْلَئِكَ هُمْ الْخَاسِرُونَ (27)

Iaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerosakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Dalam ayat ini, Allah menyambung dari ayat sebelumnya yang menerangkan sikap dan perangai manusia yang fasik.

Mereka yang fasik adalah manusia yang mengingkari perjanjian dengan Allah, mengingkari utusanNya, meningkari penurunan Al-Quran, menyalahi agama Allah seperti memutuskan silatur rahim, dan membuat kerosakan di muka bumi. Mereka itulah manusia yang rugi di dunia dan di akhirat.

KESIMPULAN

Sesungguhnya janganlah kita menjadi hamba Allah yang ingkar dengan segala syariatnya. Sesungguhnya Allah membrikan perumpamaan yang buruk terhadap golongan yang ingkar dari mentaatiNya. Allah menyediakan pula jannah yang penuh kenikmatan bagi manusia yang melakukan kebaikan dan amal soleh. Wallahu a’lam.



[1] Diwaktu turunnya surat Al Hajj ayat 73 (Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah) yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahawa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya surat Al Ankabuut ayat 41 yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.
[2] Disesatkan Allah bererti: bahawa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mahu memahami petunjuk-petunjuk Allah. Dalam ayat ini, kerana mereka itu ingkar dan tidak mahu memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.
[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan berbagai sanad yang bersumber dari as-Suddi
[4] Diriwatkan oleh al-Wahidi dari Abdul Ghani bin Said at-Tsaqafi, dari Musa bin Abdurrahman dari Ibnu Juraij dari Atha yang bersumber dari Ibnu Abbas. Abdul Ghani sangat dla'if.)
[5] Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam tafsirnya, dari Ma'mar yang bersumber dari Qatadah
[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Hasan

Thursday, 27 October 2011

TAFSIR AL-FALAQ

TAFSIR AL-FALAQ




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

١. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ 
1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,


 ٢. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
2. dari kejahatan makhluk-Nya,


 ٣. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,


 ٤. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,


 ٥. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Makna a’udzu ialah berpegang teguh dan waspada. Kalimat ini mengandung permohonan “perlindungan kepada sesuatu” dan “perlindungan dari sesuatu”.
“Perlindungan kepada sesuatu” ialah kepada Allah saja, Penguasa Subuh yang kepada-Nyalah kita berlindung. Allah mnjelaskan seputar meminta perlindungan kepada makhluk hanya akan manambahkan dosa dan kesalahan, yaitu menjadikannya thagut. Allah berfirman :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Al-Jin:6)
Al-Falaq ialah tanda putih pada waktu subuh, yaitu jika berpisah dari waktu malam. Hal ini menunjukkan keesaan dan keagungan Allah
Al-Musta’iz, yang memohon perlindungan, ialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
dan siapa saja siapa mengikutinya hingga hari kebangkitan.
Adapun “perlindungan dari sesuatu” ada 4 macam :
Pertama : “dari kejahatan makhluk-Nya” mencakup kejahatan di awal dan di akhirat, dalam perkara agama maupun dunia.
Kedua : “dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”. al-ghasiq artinya: malam. Idza waqab artinya : paling gelap dan masuk ke dalam segalanya, tempat hidup ruh yang jahat.
Ketiga : “dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”. Ini merupakan sihir yang paling jelek. Naffasat artinya : wanita, yaitu ruh dan jiwa, karena pengaruh sihir hanyalah bagi jiwa yang buruk.
Keempat : “dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. Ini mencakup iblis dan bala tentaranya karena mereka paling hasad kepada anak-anak Adam. “Bila ia dengki” maksudnya karena orang yang dengki jika kedengkian terhadap saudaranya disembunyikan dan hanya berbuat baik tidak akan mencelakakan orang lain.

Tuesday, 25 October 2011

KALAM CINTA IMAM SYAFIE



“ CINTA WANITA ”

أكثر الناس في النساء وقالوا # إن حب النساء جهد البـلاء
Aktsarun Naasu fin-Nisaa-i wa Qaaluu # Inna Hubban-Nisaa'i Jahdul Balaa-i

ليس حب النساء جهدا ولكن # قرب من لا تحب جهد البلاء
Laysa Hubbun Nisaa-i Jahdan wa Lakin # Qurbu Man Laa Tuhibbu Juhdul Balaa-i

Ertinya :

"Kebanyakan manusia berpandangan tentang wanita dan mereka berkata # sesungguhnya cinta wanita adalah penderitaan yang menyakitkan",

"Bukanlah cinta wanita yang merupakan penderitaan, tetapi # dekat (akrab) dengan wanita yang tidak engkau cinta itulah penderitaan yang menyakitkan".




“ CINTA ORANG-ORANG SOLEH ”

أحب الصالحين و لست منهم * لعل أن أنال بهم شفاعة
و أكره من تجارتهم معاصى * و إن كنا سويا في البضاعة

Aku cinta orang-orang soleh, sedangkan aku bukanlah bahagian dari mereka, namun semoga dengan orang-orang soleh tersebut aku mendapatkan syafa'at.
Aku benci terhadap manusia yang jual belinya maksiat (derhaka), walaupun mungkin terdapat kelakuanku sama dengan mereka

Imam Ahmad mengungkap,

تحب الصالحين وانت منـهم * ومنكم سوف يلقون الشفاعة
Aduhai engkau (wahai Imam al-Syafi'i) cinta orang-orang soleh sedangkan engkau bahagian dari orang-orang soleh, dan dari kalian semua akan di peroleh syafa'at

...وتكره من تجارته المعاصي * وقــاك الله من شر البضاعة
Engkau benci manusia yang jual belinya maksiat, dan semoga Allah menjaga engkau dari hal-hal yang buruk.



- Semoga Daku merindui kesolehan sepertimu wahai Imam Pujangga Ummah..

Thursday, 13 October 2011

TAFSIR AYAT 21-24 SURAH AL-BAQARAH




TAFSIR SURAH AL-BAQARAH AYAT 21-24
(TAATLAH ALLAH JANGAN ENGKAU MENCABARNYA.)
Oleh : Ustaz Mat Razali Bin Mat Lazin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Didalam ayat ini, Allah menceritakan tentang bagaimana seruan Allah kepada hambanya supaya menyembah Dia iaitu Allah Tuhan Yang Maha Esa. Menurut pandangan ibnu abbas dan said bin jubair,kalimah yaa ayyuhan naas merujuk kepada seruan terhadap dua golongan iaitu manusia yang kafir dan munafiq. Sebagaimana pandangan ibnu abbas lagi , اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ iaitu Allah menyuruh manusia menyembah dan mentauhidkan Dirinya. Kemudian Allah menerangkan kesempurnaan tauhid dari sudut uluhiyyah dan rububiyyahnya iaitu Allah yang layak disembah kerana Dialah yang telah menciptakan manusia iaitu kamu dan semua manusia dan makhluk sebelum daripada kamu sebagaimana pendapat as-suddi. Inilah yang menjadi kayu pemisah antara aqidah islam dengan aqidah kuffar…bukan hanya mengakui kekuasaan Allah, bahkan meletakkan kepatuhan dan sembahan hanya pada Allah.
Kemudian pada akhir ayat Allah mengaskan bahawa seorang hamba iatu akan mencapai kemuncak ibadat iaitu taqwa kepada Allah. Kata Ad-Dhahak, Allah mengaskan semoga kamu takut kepada api neraka dengan mengerjakan solat lima waktu.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

22. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[1], padahal kamu mengetahui.
Kemudian,pada ayat seterusnya, Allah menerangkan akan sedikit sahaja[2] bukti kekuasaannya yang telah menciptakan pelbagai perkara. Allah berkuasa melakukan apa sahaja menurut kehendakNya yang Maha Esa. Yang dimaksudkan dengan as-sama’ ialah awan yang datang menurunkan air hujan yang padanya menyuburkan tanaman. Banyak ayat-ayat Allah menciptakan kekuasaan Allah..

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

23. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.[3]

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Kemudian Allah mencabar manusia yang ingkar dan ragu terhadap ayat Allah agar membuat satu surah sebanding al-quran. Ia seakan ejekan Allah terhadap hambanya yang ingkar, kerana ratusan surah-surah al-quran tidak dapat ditandingi oleh manusia untuk mencipta yang sebanding dengannya apatah lagi mencipta yang lebih baik.
Ayat ini merupakan tentangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa kerana ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

24. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.
Kemudian Allah memberitahu hakikat sebenarnya bahawa Allah Yang Maha Tahu sesungguhnya manusia tidak akan sekali-kali dapat meniru ayat-ayat Allah, walaupun pelbagai usaha yang mereka lakukan…sejak zaman dahulu hinggalah zaman kini.
Justeru Allah memberikan ancaman, bahawa manusia yang menderhakai ayat-ayat Allah, maka disediakan bagi mereka azab yang kekal abadi.
Inilah yang telah dilakukan oleh musuh-musuh Allah sejak dahulu hingga kini. Mereka bukan sahaja tidak mahu menurut ayat Allah, bahkan mempertikaikan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan. Semoga kita menjadi hamba yang taat dan dijauhkan dari golongan hamba-hamba sesat dan kufur.


[1] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.
[2] Kekuasaan Allah itu amat banyak
[3] Al-Mu’min ayat 64