Pages

Wednesday, 7 March 2012

AL-GHAZALI ( IMAM HUJJATUL ISLAM )




Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/1059 di Thus daerah Khurasan. la dikenal dengan al-Ghazali karena ayahnya pekerja pemintal tenun wol atau karena ia berasal dari desa Ghazalah. Keluarganya tergolong keluarga yang kuat beragama dan termasuk keluarga sufi. la mulai memasuki pendidikan di daerahnya yaitu belajar kepada Ahmad ibnu Muhammad al-Razkani al-Thusi. 
Disamping belajar tersebut ia mulai mengajar dan menulis dalam Ilmu Fiqh Setelah imam al-Juwaini wafat dan pelajaran tasa-wuf sudah cukup dikuasainya, kecemerlang¬an dan keharuman namanya dan kesenangan duniawi melimpah ruah. Namun keadaan itu bukan semakin menambah kebahagiaan¬ malah membawanya sakit sampai ia secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri dari kecemerlangan duniawi itu. ia berangkat menuju Damaskus di Syria dan tinggal dikota ini mulai tahun 488 H/1095 suatu kota yang penuh damai dan banyak dihuni kalangan sufi. Di masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir di puncak menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan minum yang terbatas. la memasuki suluk sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus-menerus seperti itu selama dua tahun di Damaskus.
Setelah itu, ia meninggalkan Damaskus berangkat menuju Baitul Maqdis di Palestina. Di sini, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah mengunci pintunya unlah dan berzikir. ia juga berangkat ke kota al-Khalil untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dirasa cukup berada di Palestina, ia berangkat menuju Hijaz untuk melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah Ke makam Rasulullah di Madinah.menurut beberapa penulis, setelah ia melaksanakann ibadah haji, ia berangkat menuju Mesir dan tinggal iskandariah beberapa lama. Setelah beberapa kali adanya permintaan, maka ia akhirnya mengabulkan untuk kembali mengajar di Perguruan Nidzamiyah Baghdad. Ternyata ia tinggal di Baghdad dengan tugas memberikan kuliah tersebut tidak lama dilaksa¬nakannya, dan ia kembali ke Thus. Di Thus ia mendirikan khanaqah untuk para sufi dan mendirikan madrasah untuk mengajar Ilmu Tasa¬wuf. Di daerah kelahirannya ini Imam al-Ghazali yang bergelar dengan hujjatul Islam meninggal dunia de¬ngan tenang pada hari Senin 14 jumadil Akhir 505 H. AI-Ghazali meninggalkan karya-karya tulis yang amat banyak meliputi berbagai bidang keislaman Kalam, Fiqh, Filsafat, Tasawuf, dan lain-lain, dalam ¬bentuk buku maupun risalah.
Tasawuf al-Ghazali menghimpun akidah, syariat, dan akhlak dalam satu sistematika yang kuat dan amat berbobot. Berbobotnya tasawuf al-Ghazali itu karena teori-teori tasawufnya itu lahir dari kajian dan peng¬alaman pribadi setelah melaksanakan sulukk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan berkesi¬nambungan. 
Dalam pandangan al-Ghazali, Ilmu Tasawuf mengandung dua bagian penting, pertama mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mu'amalah dan bagian kedua mengandung bahasan hal-hal yang menyangkut ilmu mukasyafah. Ilmu Tasawuf yang mengandung dua bagian ilmu ini secara jelas diuraikan dalam karyanya Ihya 'Ulumiddin. Ia mengemukakan maqamat dan ahwal yang perlu ditempuh oleh salik itu adalah tobat, sabar, syukur, khauf, zuhud, tawakkal, mahabbah, unsu, 'isyq, ridha.Menurut al-Ghazali, antara maqam dan hal tidak begitu berbeda dan hanya dikenali dengan perasaan batin masing-masing. Dalam uraian-uraian al-ghazali, kita mengetahui bahwa setiap maqam dan hal selalu mengandung tiga unsur penting yaitu menyangkut ilmu, rasa dan amal dari masing-masing. Menurut al-Ghazali perjalanan tasawuf itu pada hakikatnya adalah pembersihan diri dan pembening¬an hati terus-menerus hingga mampu mencapai mu¬syadah. Oleh karena itulah, maka al-Ghazali mene¬kankan betapa pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik di sisi manusia maupun di sisi Tuhan. Keistimewaan al-Ghazali yang lain adalah uraian¬nya yang berhubungan dengan makrifat sebagai jalan mnengenal Allah yang jelas ciri-ciri dan batas-batasnya. Sarana makrifat menurut al-Ghazali, bukan akal, indera atau rasa, tetapi hati (al-qalbu). Hati (al-qalbu) bukan dalam arti segumpal daging dalam dada sebe¬lah kiri itu sebagaimana biasanya disebutkan, namun adalah percikan rohaniah ketuhanan (latifah rabbaniy¬ah) yang merupakan kebenaran hakiki manusia. Menurut al-Ghazali, hati (al-qalbu) ibarat cermin yang mampu menangkap makrifat ketuhanan. Ke¬mampuan hati (al-qalbu) tersebut tergantung pada bersih dan beningnya hati (al-qalbu) itu sendiri. Apa bila ia dalam keadaan kotor atau penuh debu dosa maka ia tidak akan bisa menangkap makrifat itu. Metode penyampaian yang digunakan adalah meto¬de kasyf.
Dengan kasyf yaitu terbukanya dinding yang memisahkan antara hati (al-qalbu) dengan Tuhan karena begitu bersih dan beningnya hati (al-qalbu) tersebut, maka terjadi musyahadah yang hakiki. Seorang sufi yang sudah berada dalam maqam demikian, ia tidak memandang selain Allah dan tidak, tahu selain Dia. Yang disaksikannya dalam ujud ini hanyalah Dia dan ciptaan-ciptaan-Nya. Dalam keada¬an demikian, seorang sufi mengesakan Allah dengar sebenarnya dan ia tidak melihat kecuali Dia. Demikian sufi sudah mulai memasuki keadaan fana dalam tauhid.
Membicarakan masalah fana, maka menurut Al-Ghazali, pembicaraan itu sudah memasuki ilmu mukasyafah.


Monday, 5 March 2012

HAMZAH ASADULLAH - Singa Allah


Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu binatang di padang pasir, hal itu telah menjadi hobi dan kegemarannya sejak masa muda.

Siang itu hampir setengah hari dia menghabiskan waktunya di padang pasir yang luas dan tandus itu, akan tetapi ia tidak mendapatkan buruannya. Akhirnya ia beranjak pulang dan mampir di Ka’bah untuk melakukan thawaf sebelum kembali ke rumah.
Sesampainya di depan Ka’bah seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud’an At Taimi menghampirinya seraya berkata,”Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kamu melihat apa yang dialami oleh anak saudaramu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam-lah, musuh jahatnya telah memaki dan menyakiti anak saudaramu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.” kemudian diceritakannya peristiwa itu secara terperinci.
Setelah mendengarkan panjang lebar peristiwa yang di alami oleh anak saudaranya tadi pagi, dia terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Lalu ia membawa busur dan anak panah dan menyandangnya, Kemudian dengan langkah cepat dan tegap, ia pergi menuju Ka’bah dan berharap akan bertemu dengan Abu Jahal di sana. Namun belum sampai di Ka’bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Maka dalam ketenangan yang mencekam, Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur dan mengucurlah darah segar deras dari dahinya.
“Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Nah sekarang, cuba ulangi kembali makian dan cercaan mu itu kepadaku jika kamu berani!”, bentak Hamzah kepada Abu Jahal.
Akhirnya dalam beberapa saat orang-orang yang berada di sekitar Ka’bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.
Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,”Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Kerana tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca anak saudaranya dengan kata-kata yang tidak pantas.”
Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berfikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.
Sementara itu Abu jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum muslimin berpendapat perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi. Oleh kerana itu ia mulai menghasut orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rosulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahawa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama islam lebih mendalam.
Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da’wah islam. Kerana itu tidaklah menghairankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan “Asadullah” yang bererti singa Allah.
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali di kirim oleh Rasulullah dalam perang Badar, di pimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah, Si Singa Allah, dan Ali bin Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.
Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah iaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara kerana suaminya terbunuh dalam perang Badar.
Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat iaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perhambaan.
Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin.. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.
Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.
Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.
Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerajang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza dengan lajunya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi melemparkan tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bahagian bawah Hamzah hingga tembus ke bahagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.
Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.
Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,”Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”
Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin mensolatkan jenazah bapa saudaranya dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama Sayyidina Hamzah disolatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk disolatkan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya mensolatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah mensolatkan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah mensolatkan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.


Saturday, 3 March 2012

SYAITAN ITU TAKABBUR

SYAITAN ITU TAKABBUR

TAFSIR AYAT 30-34 SURAH AL-BAQARAH


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Dalam ayat ini Allah menjelaskan hakikat penciptaan manusia yang pertama iaitu Nabi Allah Adam ‘Alaihissalam. Ia menolak dakwah bodoh Darwin yang mengatakan bahawa manusia itu berasal daripada monyet dan beruk.
Ketika Allah memberitahu para malaikat [1] tentang akan diciptakan Adam. Maka pemberitahuan ini merupakan pemberitahuan Allah terhadap malaikat[2] dan tidak bermaksud Allah Yang Maha Agung meminta persetujuan malaikat.
Allah akan menjadikan di muka bumi ini seorang khalifah. Kata Imam syanqithi dalam Adhwa’ul Bayan, makna khalifah memberi maksud kepada dua wajah atau dua keadaan. Pertama ia merujuk kepada penciptaan Adam a.s dan keduanya ia merujuk sendiri kepada jama’nya iaitu khalaif yang memberi makna umat manusia sendiri merupakan khalifah Allah di muka bumi ini.
Kemudiannya timbul pertanyaan para malaikat bahawa “ Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? ” Maka Allah s.w.t. yang maha tahu menjawab pertanyaan tersebut. Ini membuktikan bahawa manusia walau bagaiman hebat sekalipun ilmunya tetap terbatas dan ilmu Allah itu maha luas dan tidak terbatas.
Kemudian ayat ini diteruskan dengan sambungannya :-
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
Allah s.w.t telah mengajarkan bapa manusia dengan ilmu. Inilah juga yang ditegaskan dalam ayat pertama daripada Al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah s.a.w. kemudian Allah bertanya kepada para Malaikat akan ilmu-ilmu tersebut, maka hal ini tidak dapat diungkap oleh makhlukNya iaitu malaikat lalu para malaikat berkata :-

قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[3]
Inilah doa yang selalu kita amalkan bahwa kita tidak mengetahui sesuatu melainkan ia diajar oleh Allah s.w.t.
Kalimah ‘la’ merupakan penafian tidak ada ilmu kemudian ‘illa’ menjelaskan ilmu yang tiada itu ada dan ia hanya diberikan oleh Allah.
Allah itu maha mengetahui…inilah yang dijelaskan oleh Allah ta’ala :-

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
Sebahagian orang keliru dengan mengatakan syaitan adalah dari jenis malaikat. Mereka merujuk kepada ayat-ayat dimana Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintah para malaikat untuk sujud kepada Adam. Salah satu dari ayat tersebut:
Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “Sujudlah kepada Nabi Adam.” Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan iblis; ia enggan dan takabur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir.[4]
Berdasarkan ayat di atas dan lain-lain yang semaksud dengannya, mereka mendakwa iblis dan syaitan adalah dari jenis malaikat, maka kerana itulah ia dihukum kerana enggan sujud kepada Adam. Seandainya iblis dan syaitan bukan dari jenis malaikat, nescaya ia tidak akan dihukum kerana enggan sujud kepada Adam.
Kekeliruan ini dapat diluruskan dengan penjelasan bahawa dalam ayat 50 surah al-Kahf, sebagaimana yang dikemukakan di atas, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan bahawa iblis adalah dari jenis jin. Bahkan dalam ayat 12 surah al-A’raaf, Allah telah menjelaskan pengakuan iblis bahawa ia dari api, bahan asas yang sama dengan asal usul jin.
Ada pun ayat 34 surah al-Baqarah dan yang semakna dengannya, perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ditujukan kepada para malaikat tidaklah bererti iblis adalah dari jenis malaikat. Ini kerana dalam kaedah bahasa Arab, apabila wujud dua kumpulan di mana satunya besar dan satu lagi kecil jumlahnya, perintah kepada kumpulan yang besar merangkumi kumpulan yang kecil juga. Pada saat itu para malaikat membentuk kumpulan yang besar manakala para jin membentuk kumpulan yang kecil. Maka apabila perintah sujud kepada Nabi Adam ‘alahissalam diseru kepada para malaikat, ia merangkumi para jin juga.
Besarnya kumpulan malaikat, atau jumlah mereka, telah digambarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai:
Langit menggeletar dan sudah sememangnya ia menggeletar. Demi diri Muhammad yang berada di Tangan-Nya, tidak ada sejengkal ruang jua (di langit) melainkan terdapatnya dahi malaikat yang sedang bersujud, bertasbih kepada Allah dengan memuji-Nya.[5]
Iblis sedia mengetahui hal ini. Oleh itu apabila ditanyakan “Apakah penghalang yang menyekatmu daripada sujud ketika Aku (Allah) perintahmu?”, iblis tidak menjawab “Aku tidak sujud kerana perintah hanya dituju kepada para malaikat manakala aku daripada para jin.” Sebaliknya iblis mengakui dia termasuk dalam perintah tersebut namun dia enggan sujud kerana merasakan dirinya lebih hebat. Perhatikan ayat berikut:
Kemudian Kami berfirman kepada malaikat-malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, lalu mereka sujud melainkan iblis – ia tidak termasuk dalam golongan yang sujud.
Allah berfirman: “Apakah penghalang yang menyekatmu daripada sujud ketika Aku perintahmu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripada Adam. Engkau (wahai Tuhan) jadikan daku dari api sedang dia Engkau jadikan dari tanah.” [6] Oleh itu iblis dan syaitan adalah dari jenis jin dan bukannya malaikat.
Mengapakah iblis enggan sujud? Dalam ayat 34 surah al-Baqarah di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahawa sebab iblis enggan sujud ialah takbur. Apakah yang dimaksudkan dengan sikap takbur? Allah menjelaskannya dalam beberapa ayat lain. Para pembaca sekalian hendaklah memberi perhatian kepada penjelasan ini kerana mungkin sebahagian darinya ada pada diri kita sendiri tanpa disedari.


1.     Takbur ialah sikap ujub.
Ujub ialah sikap yang merasa diri sendiri lebih hebat, lebih canggih dan lebih baik dari yang selainnya. Sikap inilah yang dimiliki oleh iblis sebagaimana ayat berikut: Allah berfirman: “Apakah penghalangnya yang menyekatmu daripada sujud ketika Aku perintahmu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripada Adam, Engkau (wahai Tuhan) jadikan daku dari api sedang dia Engkau jadikan dari tanah.”[7]

2.     Takbur ialah sikap menghina orang lain.
Salah satu maksud takbur yang ada pada iblis ialah sikap menghina, sebagaimana dia menghina bahan-bahan yang menjadi asas penciptaan manusia: Allah berfirman: “Hai Iblis, apa sebabnya engkau tidak turut bersama mereka yang sujud itu?”
Iblis menjawab: “Aku tidak patut sujud kepada manusia yang Engkau jadikan dia dari tanah liat yang kering, yang berasal dari tanah kental yang berubah warna dan baunya.”[8]

3.     Takbur ialah mengunggulkan akal (logik) di atas perintah Allah.
Apabila diperintah untuk sujud kepada manusia, semua penghuni langit sujud kecuali iblis. Oleh kerana sikap takbur yang ada pada dirinya, ia merasakan tidak perlu segera taat kepada perintah Allah. Sebaliknya hendaklah dinilai terlebih dahulu adakah perintah tersebut logik atau tidak.
Setelah dinilai, iblis mendapati perintah tersebut adalah tidak logik kerana api dan tanah tidak berada pada kedudukan yang sama. Antara keduanya, tentu api lebih mulia dari tanah. Justeru takkanlah sesuatu yang dicipta dari api perlu sujud kepada sesuatu yang dicipta dari tanah?
Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Kami berfirman kepada malaikat:  “Sujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka sujudlah melainkan iblis; ia berkata: “Patutkah aku sujud kepada (makhluk) yang Engkau jadikan dari tanah?”[9]

4.     Takbur ialah mempersoal perintah larangan Allah.
Setelah menilai bahawa perintah sujud kepada manusia adalah tidak logik, iblis bukan sahaja enggan sujud tetapi memberanikan diri menyoal Allah akan perintah-Nya! Perhatikan sikap iblis ini yang Allah ungkapkan dalam al-Qur’an:
Iblis berkata lagi (kepada Allah): “Khabarkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan mengatasiku?”[10]

Demikian empat sikap takbur yang dimiliki oleh iblis yang menyebabkan ia dihalau keluar dari langit:
Allah berfirman: “Turunlah engkau dari (langit) ini, kerana tidak patut engkau berlaku takbur di dalamnya; oleh sebab itu keluarlah, sesungguhnya engkau dari golongan yang hina.”[11]

Hendaklah kita sentiasa berwaspada terhadap empat sikap takbur yang dimiliki oleh iblis, iaitu ujub, menghina, mengunggulkan logik atas wahyu dan mempersoalkan wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan sikap-sikap tersebut tidak lain agar kita mengambil iktibar darinya dan menghindari diri daripada bersikap dengannya. Hendaklah kita memiliki sikap rendah diri, memuliakan orang lain, tunduk kepada wahyu (al-Qur’an dan al-Sunnah) serta tidak mempersoalkannya.
Wallahu A’lam.


[1] Malaikat adalah kata jama’ daripada Malak. Ia merujuk kepada ramai malaikat.
[2] Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menerangkan tentang tiga jenis makhluk ini dalam sabda baginda:

خُلِقَتْ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ.

Diciptakan malaikat dari cahaya, diciptakan jin dari nyalaan api dan diciptakan Adam (manusia)
dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian. Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2996 (Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq, Bab hadis-hadis yang pelbagai).
Merujuk kepada tiga jenis makhluk di atas, yang penting untuk diketahui ialah bahan asas ciptaannya dan bukan bagaimana bahan tersebut berbentuk atau diadun. Ini kerana jika dihimpun semua ayat al-Qur’an dan hadis yang sahih berkenaan asal usul malaikat, jin dan manusia, akan ditemui bahawa bahan-bahan tersebut dinyatakan dalam bentuk yang berbeza atau adunan yang berlainan.

Untuk jin umpamanya, dalam hadis di atas disebut bahawa ia dicipta dari nyalaan api. Akan tetapi dalam ayat 27 surah al-Hijr, disebut bahawa ia dicipta dari (نار السموم) “angin api yang amat panas”. Perbezaan ini sebenarnya saling melengkap dan memperinci antara satu sama lain. Yang penting untuk kita ketahui ialah bahan asas untuk ciptaan jin ialah api.
[3] Sebenarnya terjemahan Hakim dengan Maha Bijaksana kurang tepat, karena arti Hakim ialah: yang mempunyai hikmah. Hikmah ialah penciptaan dan penggunaan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. Di sini diartikan dengan Maha Bijaksana karena dianggap arti tersebut hampir mendekati arti Hakim.
[4] al-Baqarah 2:34
[5] Sahih: Dikeluarkan oleh Ibn Mardawiyah dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ al-Shagheir, hadis no: 1020.
[6] al-A’raaf 7:11-12
[7] al-A’raaf 7:12
[8] [al-Hijr 15:33]

[9] [al-Isra’ 17:61]
[10] [al-Isra’ 17:62]
[11] [al-A’raaf 7:13]



Wednesday, 15 February 2012

SUKARNYA NUH A.S

SUKARNYA NUH A.S - MRML





Sukarnya menjadi dirimu,
insan tabah mengusung wahyu,
ya....wahyu itu bisa membuat insan layu
kerna tiada siapa yang mahu
pada dakwah yang laba dunianya belum tentu.....


Oh Nuh.....Tuhan rakam kisahmu
pada lembaran KalamNya yang dibaca merdu
merdu yang bisa buat umat layu
jika sifar rasaan wahyu


Oh Nuh....aku mahu ikutimu...
ya jalan yang kau lalu aku bisa lalu
namun aku tidak sekukuhmu
pada sirat yang selalu ku rayu


Mereka tutup telinga dan hati
pada serumu agungkan Rabbi
Ohhhhhh....aku hairan dengan mu
perasaanmu sukar kubaca dan dicoret ilmu


Kini baru ku tahu...
sukarnya menjadimu
Nuh yang diangkat wahyu......
cari syurga dalam kelam nafsu


ku tilik kisah itu
pada mushaf yang sering ku paku...
sukarnya melalui jalan nabi
namun itulah hebatnya umat ini......


Oh SUKARNYA NUH A.S